Pernah diajukan sebagai syarat beasiswa Dataprint tahun 2016. Namun aku gak lolos... :D
Mahasiswa bukanlah sekedar
panggilan bagi mereka yang menempuh studi di perguruan tinggi belaka. Kata
“maha” bukan hanya sekedar pembeda dengan anak sekolahan saja. Namun seorang
mahasiswa merupakan intelektual yang sangat diharapkan oleh bangsa Indonesia
untuk membawa perubahan yang lebih baik dimasa depan.
Media sosial bukanlah hal tabu
lagi bagi masyarakat baik menengah kebawah maupun keatas semuanya sudah tahu
akan hal ini. Di media sosial banyak hal yang bisa dibagikan dan dilihat oleh
seluruh dunia, misal seorang bayi yang masih terbata-bata mengucapkan nama
buah-buahan, dan membuat orang yang melihat video tersebut menjadi
terhibur,mendapat ribuan likes dan
komentar. Banyak yang memanfaatkan media sosial untuk berpromosi, mendapatkan
penghasilan, popularitas dan sebagainya. Dibalik manfaat tersebut, sangat
penting untuk beretika dalam bermedia sosial, sehingga kegiatan kita tersebut
menjadi bijak dan berkualitas.
Menurut survei yang dilaksanakan
oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dari 132,7 juta
pengguna internet Indonesia, sebanyak 97,4%
pengguna mengakses media sosial . Mengakses media sosial merupakan hal
yang paling sering dilakukan dibandingkan tujuan lain seperti berita ,
komersial dan pendidikan. Dalam media sosial orang-orang dapat berbagi
informasi apapun , bisa saja benar ataupun salah, menyampaikan opininya tanpa
ada batasan. Hal itulah yang harus sangat diperhatikan. Segala aktivitas yang
dilakukan di media sosial dapat memberikan isu-isu yang kadang meresahkan masyarakat.
Seperti berita hoax kecelakaan antara
bus dengan seorang ibu hamil yang disampaikan oleh salah satu pengguna facebook
di Madura pada beberapa hari yang lalu. Berita hoax sangatlah meresahkan
masayarakat. Berita isu gempa, tsunami, dan lain-lain . Disitulah mahasiswa
dapat memberikan perannya dengan memberikan contoh cara beropini yang baik,
memberikan informasi yang benar, dan meredakan suasana yang dapat mengakibatkan
keresahan masyarakat.
Bukan hanya sekedar pengguna
media sosial, mahasiswa juga dapat berperan menyajikan informasi yang benar,
akurat dan menambah pengetahuan bagi pengguna internet lainnya. Survei APJII
menunjukkan pengguna internet terbesar adalah wiraswasta , disusul ibu
rumahtangga , mahasiswa, pelajar dan pengguna lain. Bukan hal mustahil nantinya
pertumbuhan pengguna menjadi semakin besar karena tuntutan teknologi zaman
sekarang. Semakin banyaknya pengguna internet, semakin banyak yang dapat
manfaat ataupun mendapat kerugian dari media sosial.
Konten yang disajikan pada media
sosial beragam, dimulai hiburan, informasi pendidikan, tips rumah tangga ,
promosi, maupun konten yang tidak boleh di lihat bagi anak dibawah umur. Hasil
survei APJII mengungkapkan pengguna media sosial yang belum cukup umur sebanyak
69,2% sedangkan yang telah cukup umur sebesar 30,3%. Dapat kita lihat begitu besar
perbedaannya. Sangat dibutuhkan filter
dari orang-orang dewasa yang memberikan fasislitas kepada anak-anak yang belum
cukup umur, demi perkembangan mereka di masa depan. Mengakses konten porno
dapat mengakibatkan hal sangat buruk bagi perkembangan otak. Anak-anak juga
rentan menerima komentar buruk, bullying ,
dan berpengaruh juga terhadap perkembangan sosialnya. Mahasiswa dapat
memberikan peran dalam penyampaian sosialisasi pentingnya pengawasan dari orang
tua kepada anak-anaknya dalam menggunakan media sosial.
Mengenai
permasalahan-permasalahan yang timbul akibat penggunaan mediasosial, sangat diperlukan peran mahasiswa yang kritis,
intelektual dan dapat menjadi panutan dalam perubahan kegiatan bermedia sosial
yang beretika, bijak dan berkualitas.
Bahan Bacaan:
http://wow.tribunnews.com/amp/2017/12/17/sebar-hoax-peristiwa-kecelakaan-penjual-buah-di-madura-batal-terjerat-uu-ite-ini-alasannya
http://m.tribunnews.com/lifestyle/2017/10/13/wow-ternyata-begini-pronografi-merusak-otak-dan-mental-seseorang-lebih-parah-dari-narkoba