Sabtu, 11 Agustus 2018

Mahasiswa Sebagai Pendorong Perubahan Kegiatan Bermedia Sosial yang Beretika, Bijak dan Berkualitas

Pernah diajukan sebagai syarat beasiswa Dataprint tahun 2016. Namun aku gak lolos... :D



Mahasiswa bukanlah sekedar panggilan bagi mereka yang menempuh studi di perguruan tinggi belaka. Kata “maha” bukan hanya sekedar pembeda dengan anak sekolahan saja. Namun seorang mahasiswa merupakan intelektual yang sangat diharapkan oleh bangsa Indonesia untuk membawa perubahan yang lebih baik dimasa depan.


Media sosial bukanlah hal tabu lagi bagi masyarakat baik menengah kebawah maupun keatas semuanya sudah tahu akan hal ini. Di media sosial banyak hal yang bisa dibagikan dan dilihat oleh seluruh dunia, misal seorang bayi yang masih terbata-bata mengucapkan nama buah-buahan, dan membuat orang yang melihat video tersebut menjadi terhibur,mendapat ribuan likes dan komentar. Banyak yang memanfaatkan media sosial untuk berpromosi, mendapatkan penghasilan, popularitas dan sebagainya. Dibalik manfaat tersebut, sangat penting untuk beretika dalam bermedia sosial, sehingga kegiatan kita tersebut menjadi bijak dan berkualitas.


Menurut survei yang dilaksanakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dari 132,7 juta pengguna internet Indonesia, sebanyak 97,4%  pengguna mengakses media sosial . Mengakses media sosial merupakan hal yang paling sering dilakukan dibandingkan tujuan lain seperti berita , komersial dan pendidikan. Dalam media sosial orang-orang dapat berbagi informasi apapun , bisa saja benar ataupun salah, menyampaikan opininya tanpa ada batasan. Hal itulah yang harus sangat diperhatikan. Segala aktivitas yang dilakukan di media sosial dapat memberikan isu-isu yang kadang meresahkan masyarakat. Seperti berita hoax kecelakaan antara bus dengan seorang ibu hamil yang disampaikan oleh salah satu pengguna facebook di Madura pada beberapa hari yang lalu. Berita hoax  sangatlah meresahkan masayarakat. Berita isu gempa, tsunami, dan lain-lain . Disitulah mahasiswa dapat memberikan perannya dengan memberikan contoh cara beropini yang baik, memberikan informasi yang benar, dan meredakan suasana yang dapat mengakibatkan keresahan masyarakat.


Bukan hanya sekedar pengguna media sosial, mahasiswa juga dapat berperan menyajikan informasi yang benar, akurat dan menambah pengetahuan bagi pengguna internet lainnya. Survei APJII menunjukkan pengguna internet terbesar adalah wiraswasta , disusul ibu rumahtangga , mahasiswa, pelajar dan pengguna lain. Bukan hal mustahil nantinya pertumbuhan pengguna menjadi semakin besar karena tuntutan teknologi zaman sekarang. Semakin banyaknya pengguna internet, semakin banyak yang dapat manfaat ataupun mendapat kerugian dari media sosial.


Konten yang disajikan pada media sosial beragam, dimulai hiburan, informasi pendidikan, tips rumah tangga , promosi, maupun konten yang tidak boleh di lihat bagi anak dibawah umur. Hasil survei APJII mengungkapkan pengguna media sosial yang belum cukup umur sebanyak 69,2% sedangkan yang telah cukup umur sebesar 30,3%. Dapat kita lihat begitu besar perbedaannya. Sangat dibutuhkan filter dari orang-orang dewasa yang memberikan fasislitas kepada anak-anak yang belum cukup umur, demi perkembangan mereka di masa depan. Mengakses konten porno dapat mengakibatkan hal sangat buruk bagi perkembangan otak. Anak-anak juga rentan menerima komentar buruk, bullying , dan berpengaruh juga terhadap perkembangan sosialnya. Mahasiswa dapat memberikan peran dalam penyampaian sosialisasi pentingnya pengawasan dari orang tua kepada anak-anaknya dalam menggunakan media sosial.


Mengenai permasalahan-permasalahan yang timbul akibat penggunaan mediasosial,  sangat diperlukan peran mahasiswa yang kritis, intelektual dan dapat menjadi panutan dalam perubahan kegiatan bermedia sosial yang beretika, bijak dan berkualitas.


Bahan Bacaan:
http://wow.tribunnews.com/amp/2017/12/17/sebar-hoax-peristiwa-kecelakaan-penjual-buah-di-madura-batal-terjerat-uu-ite-ini-alasannya
http://m.tribunnews.com/lifestyle/2017/10/13/wow-ternyata-begini-pronografi-merusak-otak-dan-mental-seseorang-lebih-parah-dari-narkoba

Benarkah aku satu-satunya Ekazianti?

Ini adalah hal yang membuatku penasaran. Namaku bukan nama yang unik juga, namun hasil penelusuran google menunjukkan ya cuman aku sih, Ekaz...